Gas Teros
Lingkungan yang tidak pernah memberi dukungan membuatmu harus mempunyai mental baja menghadapinya. Sebenarnya, aku tidak mau meratapi takdir, tapi apa yang terjadi selalu berkaitan erat dengan masa lalu. Jujur saja, aku tidak tahan dengan kondisi lingkungan yang selalu menyudutkan. Seakan aku tidak punya fikiran untuk terus berjalan. Ini hidupku, seharusnya aku sendiri bisa mengaturnya, tanpa harus orang lain ikut campur.
Kenyataannya,
Keputusanku menyelesaikan kuliah lebih cepat dan memutuskan untuk memulai usaha. Membuatku merasakan tekanan yang begitu besar. Akan kupastikan ini adalah tahun terakhir aku berada dirumah ini. Aku akan bekerja keras untuk bisa mempunyai rumah sendiri, setidaknya aku bisa membahagiakan diriku sendiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
Permasalahan aku yang diusir juga akan selesai.
Inilah takdir yang kujalani, lahir menjadi anak yang tidak diakui,, dibesarkan dan menjalani hidup dengan penuh tekanan, punya ayah tiri yang hanya memanfaatkan.
Memberontak?
Hanya menambah masalah, diartikan sebagai orang yang tidak punya otak dan tidak tahu diri serta terimakasih.
Apa setiap anak dibesarkan untuk mewujudkan mimpi orang lain? ku rasa tidak.
Sebenarnya, aku tidak mau mengingat tentang hal ini. Aku memaafkan diriku sendiri dan takdir. Namun, hal ini setiap hari terjadi. Bahkan kadang aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak tahu kemana harus pulang. Tidak ada sandaran.
Ibu yang kudambakan cukup dalam hayalan. Biar aku mencintainya dalam diam.
Menuliskan kisahku yang terlalu buruk sendirian. Jangan sampai dia tahu, meski aku ingin menceritakan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku.
Katanya, hati seorang ibu yang paling sensitif jika sesuatu terjadi pada anaknya.
Tapi, aku bukan anaknya lagi. Masa itu sudah habis setelah dia melahirkanku 22 tahun yang lalu.
Aku tidak punya hak apapun meminta kasih sayangnya.
Kenyataannya,
Keputusanku menyelesaikan kuliah lebih cepat dan memutuskan untuk memulai usaha. Membuatku merasakan tekanan yang begitu besar. Akan kupastikan ini adalah tahun terakhir aku berada dirumah ini. Aku akan bekerja keras untuk bisa mempunyai rumah sendiri, setidaknya aku bisa membahagiakan diriku sendiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
Permasalahan aku yang diusir juga akan selesai.
Inilah takdir yang kujalani, lahir menjadi anak yang tidak diakui,, dibesarkan dan menjalani hidup dengan penuh tekanan, punya ayah tiri yang hanya memanfaatkan.
Memberontak?
Hanya menambah masalah, diartikan sebagai orang yang tidak punya otak dan tidak tahu diri serta terimakasih.
Apa setiap anak dibesarkan untuk mewujudkan mimpi orang lain? ku rasa tidak.
Sebenarnya, aku tidak mau mengingat tentang hal ini. Aku memaafkan diriku sendiri dan takdir. Namun, hal ini setiap hari terjadi. Bahkan kadang aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak tahu kemana harus pulang. Tidak ada sandaran.
Ibu yang kudambakan cukup dalam hayalan. Biar aku mencintainya dalam diam.
Menuliskan kisahku yang terlalu buruk sendirian. Jangan sampai dia tahu, meski aku ingin menceritakan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku.
Katanya, hati seorang ibu yang paling sensitif jika sesuatu terjadi pada anaknya.
Tapi, aku bukan anaknya lagi. Masa itu sudah habis setelah dia melahirkanku 22 tahun yang lalu.
Aku tidak punya hak apapun meminta kasih sayangnya.
Komentar
Posting Komentar