Rindu Ibu

Aku selalu tersentuh tiap kali melihat ataupun mendengar tentang seorang anak yang merindukan ibunya. Hal itu karena aku juga merasakan hal yang sama. Bedanya, ibu mereka tersentuh dan sedih begitu bertemu anaknya yang sudah sekian lama tidak berjumpa dan aku sebaliknya. Ibuku selalu memberikan ekspresi datar seakan aku bukan siapa-siapa yang perlu diperhatikan. 
Tak masalah bagiku, tapi cukup sesak dadaku. Dia pasti berfikir bahwa aku bahagia tanpanya dan aku baik-baik saja. Iya, aku baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik. Tapi hati siapa yang tahu. Pada usiaku yang ke 17 tahun, pada akhirnya kakekku yang menceritakan bahwa aku anak ibuku. 
semenjak itu aku menjadi seakan benci padanya. Hidupku susah, lulus SMA aku merantau di kota, hidup dengan uang pas-pasan dan bahkan aku jarang makan. Tapi aku menikmatinya begitu saja. Sepertinya Allah tidak membiarkanku lebih lama dengan kesulitan itu.
Aku mendapat beasiswa untuk kuliah jurusan Agroteknologi di sebuah perguruan tinggi swasta. Dunia pertanian yang bukan basic ku memaksaku harus mau menekuninya. Aku merasa seakan takdir mempermainkanku. Aku tidak bisa memilih jalan hidupku sendiri. 
Setiap hari tat kala malam tiba, aku akan menangis mengingat ibu atau almarhum bapak. Bagaimana bisa takdir memaksaku hidup sendiri, tanpa siapapun yang sedarah denganku. Bagaimana bisa aku menjalani kisah sedih yang begitu panjang.
Bagaimana bisa Ibu tak pernah menghubungiku sekedar bertanya kabar. Aku juga seorang wanita. Yang nantinya juga akan menjadi seorang ibu. Karena takdir hatiku begitu rapuh. Aku tidak bisa melihat ada wanita yang disia-siakan, meskipun itu sering terjadi padaku. 
Bagaimana seorang ibu tak pernah sayang dan rindu pada anaknya. Aku yang tidak pernah dipeluk ibuku, setiap hari merindukannya. Aku yang tidak pernah mendapat kasih sayangnya selalu sayang padanya. Meski orang-orang disekitarku seakan menjadi provokator agar aku bisa membenci ibuku yang sudah melahirkanku. Bagaimanapun, aku sedarah dengannya. Aku anaknya meski tak pernah ada dalam hatinya. Aku anaknya yang selalu merindukannya setiap saat. Aku Tetap anaknya yang ingin membahagiakan dia walau hanya sekali.
Meski, aku percaya dia begitu bahagia bersama keluarganya. Aku selalu melihat postingan di facebook atau WA nya, dia pergi jalan-jalan menikmati waktu liburan bersama anak-anak dan suaminya. 
Sedang aku, harus bekerja keras untuk bisa menghidupi diri. Aku harus mengorbankan kebahagiaanku demi orang lain. Dan mengorbankan rasa rindu dan cinta pada ibuku sendiri. Aku sendiri, Bapak sudah tiada sejak aku kecil. Ibu bahagia dengan keluarganya. Biarlah takdir membawaku semaunya. 
Ku harap kau masih sudi untuk mendoakanku walau hanya sekali. Sedang aku selalu berdoa agar bisa membahagiakanku setiap hari.

Ibu


Anakmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Jenuh

Gas Teros

16 Nopember 2018